Minggu, 18 Januari 2009

Akomodasi

Jalan Sosrowijayan, pusat akomodasi bagi backpacker di Jogja


Saat backpacking di seputar Asia, akomodasi bukanlah hal yang mesti dipikirkan dengan serius. Meski demikian ada waktu-waktu dimana berburu tempat menginap jadi sesuatu yang agak melelahkan. Contohnya: saat perayaan tahun hari-hari raya di tiap-tiap Negara, atau sekitar masa liburan akhir tahun – saat dimana terjadi exodus besar-besaran pelancong asal Australia.

Khususnya di Indonesia, penginapan murah – atau biasa kita kenal dengan nama ‘losmen’ – bisa kita temukan dengan mudah di daerah-daerah tujuan wisata. Bagi para backpacker yang membutuhkan tempat-tempat penginapan hanya sekedar untuk menaruh barang bawaan dan tidur, menjatuhkan pilihan ke sebuah losmen yang biasanya dikelola secara sederhana oleh sebuah keluarga sudah lebih dari cukup. Di samping itu, harganya pun juga sangat ’membantu’. Katakanlah untuk tempat sepopuler Kuta, jika kita mau berkeringat, kita masih akan bisa menemukan sebuah penginapan kecil namun bersih dan terawat, cukup hanya dengan sekitar Rp 50.000,- semalam.

Di bandara, biasanya tersedia tempat khusus yang menyediakan jasa pemesanan hotel, walaupun seringkali mereka tak menyediakan jasa serupa untuk tempat-tempat peginapan kelas melati ke bawah. Bandara-bandara di Thailand, bisa dibilang sebagai tempat terbaik di seluruh Asia dalam menyediakan jasa pemesanan kamar. It’s OK. Jika tidak, kita pasti bisa menemukan tempat-tempat penginapan yang sesuai dengan budget backpacking kita, bertebaran di seputar stasiun KA atau terminal bis.

Tawar menawar juga berlaku dalam bisnis ini. Mintalah harga yang lebih murah, jika kita merasa kamar yang kita taksir kemahalan. Saya selalu mencoba melakukannya an sering berhasil. Para pengelola tempat penginapan biasanya akan menunjukkan kita kamar terbaik mereka – tentu saja yang termahal juga. Jadi berusahalah untuk selalu meminta potongan harga.

Ada satu hal yang unik dari bisnis ini di beberapa tempat di Asia. Hotel-hotel yang dikelola orang-orang keturunan Cina biasanya menyebut kamar ’single’ untuk kamar yang memiliki tempat tidur double di hotel-hotel konvensional, dan kamar ’double’ yang menyediakan dua tempat tidur single. Jadi Anda yang berwisata bersama pasangan Anda bisa meminta kamar ’single’, jika menemui hotel-hotel semacam ini.

Satu hal yang harus selalu diingat: periksa dulu dengan teliti seluruh kamar sebelum kita memutuskan untuk menempatinya. Periksa kebersihannya. Mintalah selalu supaya seprei diganti dengan yang baru. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, dan Anda tak yakin akan kebersihan seprei, jangan panik. Gunakan kantung tidur anda sebagai pengganti seprei. Untuk keadaan semacam inilah gunanya kita membawa sleeping bag. Jangan lupa, periksa juga kebersihan kamar mandinya (yang seringkali terpisah). Teliti juga – khususnya bagi kaum hawa, barangkali ada lubang-lubang tempat seseorang bisa mengintip kita saat sedang mandi. Tinggalkan segera, jika menemukannya.



Senin, 12 Januari 2009

Salah Lihat

Sambil sarapan, seorang backpacker berkata pada teman seperjalanannya:

”Aku yakin, polwan di taman tadi telah salah lihat, atau lebih tepatnya salah mengenaliku.”

”Bagaimana bisa?” tanya temannya.

”Begini ceritanya. Semalam aku terlalu mabuk untuk pulang ke hotel, dan tertidur di tepi air mancur di taman. Paginya aku dibangunkan oleh seorang polwan yang memekik: ’Ya Tuhanku! Bagaimana kau bisa tidur di tempat ini?!’ Mendengarnya, aku pun cepat-cepat beranjak pergi, sebelum polwan itu berlutut dan memohon padaku untuk mengabulkan doa-doanya.”

”Bodoh,” gumam sang teman tak terdengar.



Mengepak Ransel


Saat backpacking, perjalanan yang kita lakukan memang akan lebih banyak berada di dalam kendaraan umum. Tak seperti mendaki gunung, dimana kita bisa seharian berjalan kaki dengan ransel besar di punggung, dalam backpacking, waktu kita paling lama menyandang backpack atau ransel adalah saat berburu tempat penginapan. Jika kita beruntung, hitungannya waktunya paling hanya menit. Sesial-sialnya hunting penginapan saat peak season, kita masih bisa lebih sering menurunkan ransel dari pungung, ketimbang dalam acara mendaki gunung.

Kenyamanan menyandang ransel,selain ditentukan oleh bagaimana kita mengepaskan back-system dengan bentuk tubuh kita, juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana pengepakan barang-barang di dalamnya. Sekali lagi, walau barang yang kita bawa tak akan seberat saat kita mendaki gunung, tetap saja punggung kita akan dibebani oleh beban yang tak biasa kita sandang sehari-hari. Selain itu, seorang backpacker biasanya sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam perjalanannya. Tenda, bahan makanan, bahkan peralatan memasak, seringkali ditambahkan dalam daftar barang bawaan atas nama antisipasi kemungkinan terburuk di tengah perjalanan. Hasilnya sudah jelas. Beban yang kita bawa jadi membengkak.

Berikut ini ada beberapa prinsip dalam mengepak, sehingga backpack atau ransel kita selain nyaman disandang, juga akan elok dipandang:

1. Letakkan barang yang berat di bagian atas, dan bagian yang ringan di bagian bawah. Ini penting dilakukan agar seluruh beban jatuh di pundak, bbukan pinggang atau punggung. Pundak lebih kuat ketimbang pinggang atau punggung. Bagilah beban itu secara merata. Jangan menyiksa salah satu bahu dengan berat yang tak seimbang. Jika membawa tenda, bolehlah diletakkan di bagian paling atas, karena memang biasanya paling berat. Letakkan sleeping bag, dan perlengkapan tidur di bagian paling bawah, sebab baru akan digunakan pada malam hari.
2. Letakkan barang-barang yang nantinya akan paling sering keluar masuk, atau paling dibutuhkan di perjalanan di kantong-kantong luar backpack yang mudah dijangkau. Alangkah baiknya kalau kita membawanya di tempat terpisah – baik dengan daypack atau tas pinggang – bersama barang-barang berharga yang harus selalu kita bawa kemana pun pergi. Sedapat mungkin kelompokkan barang menurut fungsinya, lalu kita letakkan bersama-sama menurut tingkat kebutuhannya. Dalam hal ini travel pack akan lebih memperingan kerja kita, karena biasanya bagian dalam travel pack sudah mempunyai ruang-ruang sedemikian rupa sehingga kita bisa mengatur penempatan barang bawaan dengan lebih rapi.
3. Manfaatkan ruangan yang ada di dalam ransel sefisien mungkin. Maksudnya, jika kita membawa travel mug, jagan biarakan ruangan didalamnya kosong. Isilah dengan benda-benda kecil yang mungkin masuk, bungkusan berisi gula atau kopi instan, misalnya. Sebisa mungkin pisahkan ruang dalam ransel yang memuat bahan makanan dan pakaian. Teh yang terkontaminasi bau pengharum pakaian kita akan sangat tidak enak, bukan?

Bagaimana karakter seorang backpacker sering bisa dilihat ransel yang ia bawa. Bagaimana seorang backpacker mengepak barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam ransel sehingga bentuk ransel itu rapih dan bagus, akan mencerminkan kepribadian yang matang dari sang backpacker. Jadi, ransel dengan bentuk kacau, meletot kesana-kemarikarena dipak secara serampangan akan memberikan penilaian ’kurang’ buat pemiliknya. Apalagi bila ransel itu digantungi berbagai macam benda, sementara ransel itu sendiri masih terlihat kempes. Ransel yang digantungi sepatu, peralatan memasak, atau botol air, adalah sebah pemandangan yang menggelikan. Lagipula semua gantungan itu kemungkinan besar akan tersangkut-sangkut jika diletakkan di bagasi bus, misalnya. Sesuatu yang amat mengganggu, bisa merusak, kalau tidak boleh dibilang berbahaya.

Mengepak adalah suatu seni. Ini kata para backpacker berpengalaman.




Rabu, 31 Desember 2008

Mereka Bukan Gelandangan


Meski sering terlihat di tempat-tempat umum, khususnya di terminal bis, stasiun KA, atau bandara dengan wajah kuyu, dan terkadang duduk menggelesot bahkan terlelap di lantai, para backpackers sama sekali bukanlah gelandangan. Tak ada niat sama sekali untuk menggelandang dan mengotori ruang publik.


Yang mereka lakukan memang hanya sekedar nongkrong atau beristirahat untuk menunggu keberangkatan moda transportasi yang akan membawa mereka ke tempat tujuan berikutnya.

Untuk orang normal, mungkin aneh melihat aksi para backpackers. Berjalan kemana-mana sambil bawa tas besar dipunggungnya. Apa enaknya coba? Liburan kan untuk bersenang-senang, ngapain susah?
Mungkin saat mereka melintas di depan mata, kita akan berpikir betapa berat beban yang mereka bawa, betapa repot cara yang mereka jalani hanya sekedar untuk berwisata. Kadang muncul pula pikiran bagaimana bisa melakukan perjalanan jauh hanya berbekal tas besar itu.

Asyik jadi backpacker. Begitu kata mereka. Bebas berwisata, kemana-mana tanpa terikat jadwal ketat seperti yang diterapkan para operator perjalanan wisata. Tapi jangan salah, backpacker itu bukan orang asal jalan tanpa tujuan. Mereka punya persiapan dengan mempelajari semua tentang tempat-tempat tujuan mereka.

Jadi backpacker juga banyak manfaatnya. Selain bisa lebih membumi dan lebih mengenal tempat-tempat yang didatangi, kita juga bisa mengasah feeling saat berada di tempat asing, melatih kemampuan adaptasi dan mental, serta mendapat berbagai ilmu baru, misalnya saja bahasa atau tradisi setempat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan para backpackers antara lain: Menentukan opsi destinasi, tentukan apa yang akan kita lakukan disana, kenali daerah tujuan, bawa barang secukupnya, misalnya makanan, kompas, kantung tidur dan tenda (untuk keadaan darurat), serta pakaian yang sesuai dengan musim di tempat tersebut, amati moda transportasi, tentukan rute, waspada dengan bahaya, cek travel dokumen, cari tahu penginapan atau tempat untuk berteduh, dan yang terakhir, selalu siaga dengan apa yang tidak diharapkan, selalu siapkan rencana cadangan.

Dalam perjalanannya, backpackers punya beberapa hal yang jadi pantangan a.l: Jangan membawa barang yang tidak diperlukan, jangan terlihat 'asing' di tempat baru dan hindari banyak pertanyaan kepada orang asing.

Backpackers Juga Harus Jaga Sikap dan Penampilan!


Jika ingin acara backpacking kita lancar, penampilan diri kita harus jadi perhatian khusus. Ini bukan masalah sepele. Terlebih bagi kita yang berasal timur.

Hampir di seluruh Asia, khususnya jika harus berurusan dengan pihak berwenang setempat, penampilan lusuh seperti hipis, dandanan aneh, dan segala macam bentuk penampilan nyeleneh sangat tidak disukai. Saya ulangi: Sangat tidak disukai! Kita tidak mau merepotkan diri sendiri di /kampung/ negeri orang hanya karena menurutkan apa yang kita pikir sebagai ’ kebebasan berekspresi’, bukan?

Jika kita mendatangi Kedutaan Besar atau Konsulat untuk mengurus visa (bahkan Kedubes atau Konsulat Amerika Serikat sekalipun), di gerbang perbatasan antar negara, atau di tempat-tempat publik lain, segala urusan akan selalu lebih mudah jika kita berpenampilan rapi dan sepatutnya. Tak peduli atas nama mode atau kenyamanan, mengenakan celana jeans belel yang dipotong pendek ala kadarnya, singlet, atau bersandal jepit sama sekali tidak disarankan saat kita berurusan dengan tempat-tempat di atas. Itulah kenapa selalu disarankan untuk membawa pakaian yang agak resmi. Walaupun itu hanya kemeja polos dan pantalon sederhana.

Di beberapa negara Asia Selatan, banyak backpacker melaporkan bahwa berurusan dengan petugas berwenang setempat kadang akan menjadi urusan panjang bertele-tele, dan menyebalkan. Dalam situasi inilah kesabaran kita diuji. Kita harus selalu mengingatkan diri untuk tetap bersikap cool. Tak peduli seberapa menjengkelkan dan sok kuasanya Inspektur Vijay atau Tuan Takur yang kita temui. Menanggapinya dengan keras, sangat tidak produktif. Selalu katakan pada diri Anda, mereka hanyalah manusia-manusia malang yang berusaha keras menutupi kelemahan dengan memainkan peran who’s the boss’. Tetaplah berusaha menghadapi mereka sekalem mungkin, bahkan jika Anda yakin bahwa Anda dalam posisi benar dan mereka salah. Kalau mungkin, tnjukkan pula rasa simpati Anda pada orang-orang yang hampir pasti mempunyai kehidupan yang amat membosankan tersebut. Satu hal yang sudah pasti, keramah-tamahan, kesopanan, dan kemampuan kita menjaga tempramen akan membuat perjalanan kita senantiasa mudah.

Selasa, 30 Desember 2008

Transportasi (Asia)

Seiring menjamurnya trend penerbangan murah dewasa ini, pesawat sama sekali bukanlah moda transportasi yang ditabukan oleh para backpacker. Dalam beberapa kasus, menggunakan pesawat untuk perjalanan lintas negara bisa jadi lebih murah disbanding bila kita nekat menempuh perjalanan darat.So, selalu carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai penebangan murah untuk bisa mencapai tempat tujuan wisata kita. Karena – misalnya – perjalanan darat dari Thailand ke India atau Nepal melewati Myanmar sama sekali bukan ide yang menarik. Kecuali jika anda pernah menjadi anggota pasukan khusus.

Di beberapa Negara Asia yang relatif mapan secara ekonomi, perjalanan darat – domestik maupun internasional – akan sangat menyenangkan. Jaringan KA dan bis, baik dalam maupun antar kota, bahkan negara, dikelola dengan baik, bersih, dan teratur. Praktik percaloan nyaris nihil. Kita selalu mendapatkan pelayanan sesuai dengan yang kita bayarkan. Untuk kawasan Asia Tenggara, kita bisa menyebut negara-negara seperti Singapore, Malaysia, dan belakangan Thailand. Indonesia dan Vietnam sedang berusaha keras kearah sana, walaupun harus diakui keadaan sekarang – kabarnya – relatif lebih baik ketimbang satu dasawarsa lalu.

Untuk kawasan Asia Selatan, keadannya bisa dibilang sangat tertinggal. Kondisinya akan jadi mirip neraka jika kita melakukan perjalanan wisata di sana selama musim mudik hari besar keagamaan. Jangan kaget melihat KA yang dijubeli manusia hingga ke atap dan bagian depan lokomotifnya (di Indonesia juga ada sih, cuman yang ini jauh lebih parah). Sementara para pengelola bus dan moda transportasi jalan raya lainnya, seperti lebih konsern pada penampilan fisik dan audio ketimbang kelaikan jalan kendaraan mereka (juga jauh lebih parah ketimbang Indonesia). Bayangkan, di abad ke-21 ini masih ada bis Junga di Pakistan dengan trayek Karakoram Highway yang terkenal maut itu, aslinya adalah truk Bedford tahun 50-an! Jadi... pliiis, jangan mimpi tentang kenyamanan bertransportasi darat di sana.

Transportasi laut. Hmm.... Sebagai negara kepulauan jaringan transportasi laut di Indonesia memang terkesan lebih beragam dari negara-negara daratan. Untuk pelayaran antar pulau, kapal-kapal Pelni masih bisa diandalkan. Bahkan dek kelas ekonomi pun ber-AC, dan memiliki kran-kran air panas yang bisa kita gunakan untk menyeduh kopi dn mie instan.

Sementara kondisi pelayaran penyeberangan (ASDP) keadaannya masih lebih baik ketimbang di Filipina atau negara-negara Pasifik Selatan. Terutama feri-feri yang melayari Merak-Bakauheni atau Padang Bai-Lembar. Jangan bandingkan dengan feri-feri Laut Utara, tentu saja (suatu saat saya berharap bisa merasakan pelayaran di sana).

Secara umum, tak ada kendala transportasi yang berarti untuk backpacking melintasi Asia. Rentang variabelnya memang jadi sangat beragam dan lebar. Dari yang paling nyaman dan mahal seperti di Jepang atau Korea Selatan, sampai yang relatif murah namun bisa disebut sampai pada taraf ’horor’ seperti di kawasan Asia Selatan. Bagaimana kondisi spesifiknya? Dalam entri-entri berikutnya Insya Allah saya akan menuliskannya lebih detil.

Minggu, 28 Desember 2008

Jaringan Telekomunikasi Purba

Suatu siang dalam pelayaran menyeberangi Selat Lombok, tiga backpackers dari Jerman, Perancis, dan Inggris nampak duduk dan ngobrol bareng di dek paling atas ferry. Ketiganya saling berbual mengenai kehebatan negara masing-masing.

Si Jerman berkata :
“Baru-baru ini tim arkeologi Jerman melakukan penggalian di luar kota Parchim. Setelah menggali 1000 meter, mereka menemukan elemen-elemen tembaga. Dari bukti-bukti yang kami dapatkan, disimpulkan bahwa bangsa Jerman purba sudah memiliki jaringan kabel telepon.”

Tak mau kalah, Si Perancis menimpali dengan nada tinggi:
”Oh, ya. Tak terlalu lama juga dari hari ini. Tim arkeologi Universitas Paris juga melakukan penggalian di sekitar Dijon. Setelah menggali 2000 meter lebih, mereka menemukan serpihan kaca. Setelah diteliti lebih lanjut, kami dengan bangga mengumumkan bahwa bangsa Perancis purba telah memiliki jaringan telekomunikasi serat optik.”

”Lantas, bagaimana dengan Inggris?” tanya si Jerman.

”Seperti kalian juga,” jawab si Inggris kalem. ”Sekitar sebulan lalu, tim arkeologi kami juga mengadakan penggalian di kawasan Devonshire. Tapi setelah lebih dari 3000 meter, kami tak menemukan apa-apa.”

”Ha!” si Perancis mengangkat alis mengejek.

”Tapi itulah hebatnya,” sela si Inggris. ”Setelah diadakan penelitian dengan seksama, kami menemukan bukti bahwa bangsa Inggris purba sudah menggunakan ponsel dan menikmati fasilitas wi-fi hotspot.”